Pesan moral dalam naskah drama menggambarkan hal berikut dari penulis

Analisis Pesan Moral dalam Naskah Drama "Tutut Ingin Kaya" (unsplash/jason-leung)

BERSYUKUR DENGAN APA YANG ENGKAU MILIKI.

1.  Latar Belakang Masalah

Sastra merupakan karya seni yang menggunakan bahasa sebagai medianya, baik bahasa lisan maupun bahasa tulisan. Akan tetapi bahasa yang dimaksud bukan bahasa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari, melainkan bahasa yang mempunyai nilai seni, mempunyai kekhasan, serta mengandung unsur imajinasi.

Belajar sastra adalah belajar tentang kehidupan, sebab segala aspek kehidupan dipelajari dalam ilmu sastra. Oleh sebab itu, tidak heran ketika mempelajari ilmu sastra akan berkaitan dengan cabang ilmu yang lain, karena pada prinsipnya belajar sastra adalah belajar tentang segala hal

Karya sastra lahir karena dorongan dasar manusia untuk mengungkapkan dirinya yang menaruh perhatian serius terhadap manusia dan kemanusiaan, dan menaruh minat terhadap dunia realitas yang berlangsung sepanjang waktu (Sugiantomas, 2012: 1). 

Sebagaimana karya seni lainnya, karya sastra adalah wujud ekspresi kegelisahan manusia yang di dalamnya memuat pokok-pokok pikiran, perasaan, sikap, serta tujuan yang ingin diungkapkan pengarang sesuai pengalaman imajinasinya (Jaelani, 2009: 1). 

Ada tiga bentuk karya sastra yang merupakan wujud ungkapan ekspresi manusia mengenai persoalan hidup dan kehidupannya, yaitu; puisi, prosa fiksi, dan drama.

Baca juga : Konsep Karakteristik Naskah Drama dan Pertunjukan

Karya sastra akan tetap ada selama masih ada orang yang mau membaca karya sastra (penikmat sastra). Misalnya karya sastra jenis drama yang lebih kita kenal dengan istilah teater. 

Drama merupakan komposisi syair atau prosa yang diharapkan dapat menggambarkan kehidupan dan watak melalui tingkah laku (peran) atau dialog yang dipentaskan (KBBI, 2008: 342). 

Adanya pementasan drama tidak semata-mata karena kebetulan, akan tetapi karena adanya apresiator yang mencoba menganalisis naskah dan kemudian mementaskannya di atas panggung.


Page 2

BERSYUKUR DENGAN APA YANG ENGKAU MILIKI.

1.  Latar Belakang Masalah

Sastra merupakan karya seni yang menggunakan bahasa sebagai medianya, baik bahasa lisan maupun bahasa tulisan. Akan tetapi bahasa yang dimaksud bukan bahasa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari, melainkan bahasa yang mempunyai nilai seni, mempunyai kekhasan, serta mengandung unsur imajinasi.

Belajar sastra adalah belajar tentang kehidupan, sebab segala aspek kehidupan dipelajari dalam ilmu sastra. Oleh sebab itu, tidak heran ketika mempelajari ilmu sastra akan berkaitan dengan cabang ilmu yang lain, karena pada prinsipnya belajar sastra adalah belajar tentang segala hal

Karya sastra lahir karena dorongan dasar manusia untuk mengungkapkan dirinya yang menaruh perhatian serius terhadap manusia dan kemanusiaan, dan menaruh minat terhadap dunia realitas yang berlangsung sepanjang waktu (Sugiantomas, 2012: 1). 

Sebagaimana karya seni lainnya, karya sastra adalah wujud ekspresi kegelisahan manusia yang di dalamnya memuat pokok-pokok pikiran, perasaan, sikap, serta tujuan yang ingin diungkapkan pengarang sesuai pengalaman imajinasinya (Jaelani, 2009: 1). 

Ada tiga bentuk karya sastra yang merupakan wujud ungkapan ekspresi manusia mengenai persoalan hidup dan kehidupannya, yaitu; puisi, prosa fiksi, dan drama.

Baca juga : Konsep Karakteristik Naskah Drama dan Pertunjukan

Karya sastra akan tetap ada selama masih ada orang yang mau membaca karya sastra (penikmat sastra). Misalnya karya sastra jenis drama yang lebih kita kenal dengan istilah teater. 

Drama merupakan komposisi syair atau prosa yang diharapkan dapat menggambarkan kehidupan dan watak melalui tingkah laku (peran) atau dialog yang dipentaskan (KBBI, 2008: 342). 

Adanya pementasan drama tidak semata-mata karena kebetulan, akan tetapi karena adanya apresiator yang mencoba menganalisis naskah dan kemudian mementaskannya di atas panggung.


Lihat Sosbud Selengkapnya


Page 3

BERSYUKUR DENGAN APA YANG ENGKAU MILIKI.

1.  Latar Belakang Masalah

Sastra merupakan karya seni yang menggunakan bahasa sebagai medianya, baik bahasa lisan maupun bahasa tulisan. Akan tetapi bahasa yang dimaksud bukan bahasa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari, melainkan bahasa yang mempunyai nilai seni, mempunyai kekhasan, serta mengandung unsur imajinasi.

Belajar sastra adalah belajar tentang kehidupan, sebab segala aspek kehidupan dipelajari dalam ilmu sastra. Oleh sebab itu, tidak heran ketika mempelajari ilmu sastra akan berkaitan dengan cabang ilmu yang lain, karena pada prinsipnya belajar sastra adalah belajar tentang segala hal

Karya sastra lahir karena dorongan dasar manusia untuk mengungkapkan dirinya yang menaruh perhatian serius terhadap manusia dan kemanusiaan, dan menaruh minat terhadap dunia realitas yang berlangsung sepanjang waktu (Sugiantomas, 2012: 1). 

Sebagaimana karya seni lainnya, karya sastra adalah wujud ekspresi kegelisahan manusia yang di dalamnya memuat pokok-pokok pikiran, perasaan, sikap, serta tujuan yang ingin diungkapkan pengarang sesuai pengalaman imajinasinya (Jaelani, 2009: 1). 

Ada tiga bentuk karya sastra yang merupakan wujud ungkapan ekspresi manusia mengenai persoalan hidup dan kehidupannya, yaitu; puisi, prosa fiksi, dan drama.

Baca juga : Konsep Karakteristik Naskah Drama dan Pertunjukan

Karya sastra akan tetap ada selama masih ada orang yang mau membaca karya sastra (penikmat sastra). Misalnya karya sastra jenis drama yang lebih kita kenal dengan istilah teater. 

Drama merupakan komposisi syair atau prosa yang diharapkan dapat menggambarkan kehidupan dan watak melalui tingkah laku (peran) atau dialog yang dipentaskan (KBBI, 2008: 342). 

Adanya pementasan drama tidak semata-mata karena kebetulan, akan tetapi karena adanya apresiator yang mencoba menganalisis naskah dan kemudian mementaskannya di atas panggung.


Lihat Sosbud Selengkapnya


Page 4

BERSYUKUR DENGAN APA YANG ENGKAU MILIKI.

1.  Latar Belakang Masalah

Sastra merupakan karya seni yang menggunakan bahasa sebagai medianya, baik bahasa lisan maupun bahasa tulisan. Akan tetapi bahasa yang dimaksud bukan bahasa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari, melainkan bahasa yang mempunyai nilai seni, mempunyai kekhasan, serta mengandung unsur imajinasi.

Belajar sastra adalah belajar tentang kehidupan, sebab segala aspek kehidupan dipelajari dalam ilmu sastra. Oleh sebab itu, tidak heran ketika mempelajari ilmu sastra akan berkaitan dengan cabang ilmu yang lain, karena pada prinsipnya belajar sastra adalah belajar tentang segala hal

Karya sastra lahir karena dorongan dasar manusia untuk mengungkapkan dirinya yang menaruh perhatian serius terhadap manusia dan kemanusiaan, dan menaruh minat terhadap dunia realitas yang berlangsung sepanjang waktu (Sugiantomas, 2012: 1). 

Sebagaimana karya seni lainnya, karya sastra adalah wujud ekspresi kegelisahan manusia yang di dalamnya memuat pokok-pokok pikiran, perasaan, sikap, serta tujuan yang ingin diungkapkan pengarang sesuai pengalaman imajinasinya (Jaelani, 2009: 1). 

Ada tiga bentuk karya sastra yang merupakan wujud ungkapan ekspresi manusia mengenai persoalan hidup dan kehidupannya, yaitu; puisi, prosa fiksi, dan drama.

Baca juga : Konsep Karakteristik Naskah Drama dan Pertunjukan

Karya sastra akan tetap ada selama masih ada orang yang mau membaca karya sastra (penikmat sastra). Misalnya karya sastra jenis drama yang lebih kita kenal dengan istilah teater. 

Drama merupakan komposisi syair atau prosa yang diharapkan dapat menggambarkan kehidupan dan watak melalui tingkah laku (peran) atau dialog yang dipentaskan (KBBI, 2008: 342). 

Adanya pementasan drama tidak semata-mata karena kebetulan, akan tetapi karena adanya apresiator yang mencoba menganalisis naskah dan kemudian mementaskannya di atas panggung.


Lihat Sosbud Selengkapnya

Jakarta -

Drama adalah jenis karya sastra yang terdiri dari banyak komponen pembentuk. Sebelum membuat teks drama, ada beberapa unsur drama yang harus dipenuhi agar dapat menghasilkan cerita yang baik.

Drama adalah cerita yang menggambarkan kehidupan atau watak manusia melalui tingkah laku atau akting yang dipentaskan. Drama adalah karya seni yang memiliki ciri utama, yaitu merupakan cerita berbentuk dialog dengan tujuan dipentaskan.

Istilah drama ternyata sudah dikenal masyarakat Indonesia sejak dulu, lho. Ada beberapa istilah familiar yang pengertiannya hampir sama seperti pengertian drama. Diantaranya seperti lakon, sandiwara, tonil, sendratari, dan tablo.

Sebelum membuat teks drama, sebaiknya detikers mengetahui unsur-unsur drama yang berlaku.

Berikut unsur drama yang dirangkum dari buku Bahasa Indonesia oleh tim Kemendikbud:

1. Tema

Tema adalah gagasan pokok atau ide yang menjadi dasar pembuatan drama. Tema yang biasa diangkat dalam drama diantaranya masalah percintaan, kritik sosial, kemiskinan, penindasan, patriotisme, ketuhanan, dan lain-lain.

2. Alur

Alur adalah rangkaian peristiwa dan konflik yang menggerakkan jalan cerita. Alur drama terdiri dari 1) pengenalan cerita, 2) konflik awal, 3) perkembangan konflik, dan 4) penyelesaian.

3. Tokoh

Tokoh adalah orang yang berperan di dalam drama. Tokoh dapat dibedakan menurut sifat dan perannya.a. Berdasarkan sifat, dibagi menjadi 3:- Tokoh protagonis, yaitu tokoh utama yang mendukung cerita- Tokoh antagonis, yaitu tokoh penentang cerita

- Tokoh tritagonis, yaitu tokoh pembantu, baik untuk tokoh protagonis dan antagonis

b. Berdasarkan peran, dibagi menjadi 3:- Tokoh sentral, yaitu tokoh yang paling menentukan dalam drama. Tokoh sentral adalah penyebab terjadinya konflik, yaitu protagonis dan juga antagonis.- Tokoh utama, yaitu tokoh pendukung ataupun penentang tokoh sentral, bisa juga sebagai perantara dari tokoh sentral. Dalam hal ini adalah tokoh tritagonis.

- Tokoh pembantu, yaitu tokoh yang memegang peran sebagai pelengkap atau tambahan

4. Penokohan

Unsur drama selanjutnya adalah penokohan/perwatakan. Ini adalah penggambaran sifat batin seorang tokoh dalam cerita. Perwatakan bisa digambarkan dengan dialog, ekspresi, atau tingkah laku.

Watak para tokoh digambarkan dalam tiga dimensi atau watak dimensional yaitu:a. Keadaan fisik, seperti umur, jenis kelamin, ciri-ciri tubuh, dan suku bangsab. Keadaan psikis, seperti watak, kegemaran, standar moral, dan mental

c. Keadaan sosiologis, seperti jabatan, pekerjaan, kelas sosial, ras, dan agama

Cara pengarang menampilkan watak tokoh bisa secara langsung atau tidak langsung, yaitu:a. Secara langsung atau analitik, pengarang menampilkan watak tokoh langsung dijelaskan di dalam teks cerita.

b. Secara tidak langsung atau dramatik, pengarang menampilkan watak tidak langsung lewat dialog, percakapan tokoh, pikiran tokoh, reaksi atau tanggapan tokoh lain, lingkungan, dan keadaan fisik tokoh.

5. Dialog

Ciri naskah drama adalah berbentuk dialog atau cakapan. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam dialog:

  • Dialog harus mencerminkan percakapan sehari-hari
  • Ragam bahasa adalah bahasa lisan yang komunikatif
  • Diksi atau pilihan kata yang digunakan harus berhubungan dengan konflik dan plot
  • Dialog dalam naskah drama harus bersifat estetis, atau memiliki bahasa yang indah
  • Dialog harus mewakili tokoh yang dibawakan
  • Memiliki kramagung, atau petunjuk perilaku atau tindakan yang harus dilakukan tokoh. Dalam naskah drama, kramagung ditulis dalam tanda kurung atau biasanya bercetak miring.

6. Latar

Latar biasa disebut juga sebagai setting. Latar cerita dibagi menjadi tiga yaitu keterangan tempat, waktu, dan suasana. Latar dapat dinyatakan melalui percakapan para tokoh. Jika di pementasan, maka latar dinyatakan dalam tata panggung atau tata cahaya.

7. Sudut Pandang

Sudut pandang adalah cara pandang yang digunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar, dan peristiwa dalam cerita.Sudut pandang adalah posisi dari mana pengarang bercerita, apakah dia bertindak langsung atau sebagai pengobservasi di luar cerita. Sudut pandang terdiri dari:a. Sudut pandang orang pertama atau aku-an- Aku sebagai tokoh utama

- Aku sebagai tokoh sampingan

b. Sudut pandang orang ketiga atau dia-an- Orang ketiga serba tahu

- Orang ketiga terbatas atau pengamat

8. Konflik

Konflik adalah pertentangan atau masalah. Konflik dibedakan menjadi dua, yaitu konflik eksternal dan internal. Konflik eksternal berarti konflik antara tokoh dengan sesuatu di luar dirinya, sementara konflik internal adalah konflik di antara tokoh dengan dirinya sendiri.

9. Amanat

Amanat adalah pesan yang disampaikan pengarang kepada pembaca atau penonton. Amanat drama selalu berhubungan dengan tema dan ceritanya. Amanat juga menyangkut nilai yang ada di masyarakat, dan disampaikan secara implisit. Nilai-nilai itu diantaranya nilai moral, estetika, sosial, dan budaya.

Jika dibuat dalam bentuk pementasan, ada beberapa unsur drama lainnya. Seperti sarana pementasan, yaitu panggung, kostum, pencahayaan, dan tata suara.

(pal/pal)


Page 2

Jakarta -

Drama adalah jenis karya sastra yang terdiri dari banyak komponen pembentuk. Sebelum membuat teks drama, ada beberapa unsur drama yang harus dipenuhi agar dapat menghasilkan cerita yang baik.

Drama adalah cerita yang menggambarkan kehidupan atau watak manusia melalui tingkah laku atau akting yang dipentaskan. Drama adalah karya seni yang memiliki ciri utama, yaitu merupakan cerita berbentuk dialog dengan tujuan dipentaskan.

Istilah drama ternyata sudah dikenal masyarakat Indonesia sejak dulu, lho. Ada beberapa istilah familiar yang pengertiannya hampir sama seperti pengertian drama. Diantaranya seperti lakon, sandiwara, tonil, sendratari, dan tablo.

Sebelum membuat teks drama, sebaiknya detikers mengetahui unsur-unsur drama yang berlaku.

Berikut unsur drama yang dirangkum dari buku Bahasa Indonesia oleh tim Kemendikbud:

1. Tema

Tema adalah gagasan pokok atau ide yang menjadi dasar pembuatan drama. Tema yang biasa diangkat dalam drama diantaranya masalah percintaan, kritik sosial, kemiskinan, penindasan, patriotisme, ketuhanan, dan lain-lain.

2. Alur

Alur adalah rangkaian peristiwa dan konflik yang menggerakkan jalan cerita. Alur drama terdiri dari 1) pengenalan cerita, 2) konflik awal, 3) perkembangan konflik, dan 4) penyelesaian.

3. Tokoh

Tokoh adalah orang yang berperan di dalam drama. Tokoh dapat dibedakan menurut sifat dan perannya.a. Berdasarkan sifat, dibagi menjadi 3:- Tokoh protagonis, yaitu tokoh utama yang mendukung cerita- Tokoh antagonis, yaitu tokoh penentang cerita

- Tokoh tritagonis, yaitu tokoh pembantu, baik untuk tokoh protagonis dan antagonis

b. Berdasarkan peran, dibagi menjadi 3:- Tokoh sentral, yaitu tokoh yang paling menentukan dalam drama. Tokoh sentral adalah penyebab terjadinya konflik, yaitu protagonis dan juga antagonis.- Tokoh utama, yaitu tokoh pendukung ataupun penentang tokoh sentral, bisa juga sebagai perantara dari tokoh sentral. Dalam hal ini adalah tokoh tritagonis.

- Tokoh pembantu, yaitu tokoh yang memegang peran sebagai pelengkap atau tambahan

4. Penokohan

Unsur drama selanjutnya adalah penokohan/perwatakan. Ini adalah penggambaran sifat batin seorang tokoh dalam cerita. Perwatakan bisa digambarkan dengan dialog, ekspresi, atau tingkah laku.

Watak para tokoh digambarkan dalam tiga dimensi atau watak dimensional yaitu:a. Keadaan fisik, seperti umur, jenis kelamin, ciri-ciri tubuh, dan suku bangsab. Keadaan psikis, seperti watak, kegemaran, standar moral, dan mental

c. Keadaan sosiologis, seperti jabatan, pekerjaan, kelas sosial, ras, dan agama

Cara pengarang menampilkan watak tokoh bisa secara langsung atau tidak langsung, yaitu:a. Secara langsung atau analitik, pengarang menampilkan watak tokoh langsung dijelaskan di dalam teks cerita.

b. Secara tidak langsung atau dramatik, pengarang menampilkan watak tidak langsung lewat dialog, percakapan tokoh, pikiran tokoh, reaksi atau tanggapan tokoh lain, lingkungan, dan keadaan fisik tokoh.

5. Dialog

Ciri naskah drama adalah berbentuk dialog atau cakapan. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam dialog:

  • Dialog harus mencerminkan percakapan sehari-hari
  • Ragam bahasa adalah bahasa lisan yang komunikatif
  • Diksi atau pilihan kata yang digunakan harus berhubungan dengan konflik dan plot
  • Dialog dalam naskah drama harus bersifat estetis, atau memiliki bahasa yang indah
  • Dialog harus mewakili tokoh yang dibawakan
  • Memiliki kramagung, atau petunjuk perilaku atau tindakan yang harus dilakukan tokoh. Dalam naskah drama, kramagung ditulis dalam tanda kurung atau biasanya bercetak miring.

6. Latar

Latar biasa disebut juga sebagai setting. Latar cerita dibagi menjadi tiga yaitu keterangan tempat, waktu, dan suasana. Latar dapat dinyatakan melalui percakapan para tokoh. Jika di pementasan, maka latar dinyatakan dalam tata panggung atau tata cahaya.

7. Sudut Pandang

Sudut pandang adalah cara pandang yang digunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar, dan peristiwa dalam cerita.Sudut pandang adalah posisi dari mana pengarang bercerita, apakah dia bertindak langsung atau sebagai pengobservasi di luar cerita. Sudut pandang terdiri dari:a. Sudut pandang orang pertama atau aku-an- Aku sebagai tokoh utama

- Aku sebagai tokoh sampingan

b. Sudut pandang orang ketiga atau dia-an- Orang ketiga serba tahu

- Orang ketiga terbatas atau pengamat

8. Konflik

Konflik adalah pertentangan atau masalah. Konflik dibedakan menjadi dua, yaitu konflik eksternal dan internal. Konflik eksternal berarti konflik antara tokoh dengan sesuatu di luar dirinya, sementara konflik internal adalah konflik di antara tokoh dengan dirinya sendiri.

9. Amanat

Amanat adalah pesan yang disampaikan pengarang kepada pembaca atau penonton. Amanat drama selalu berhubungan dengan tema dan ceritanya. Amanat juga menyangkut nilai yang ada di masyarakat, dan disampaikan secara implisit. Nilai-nilai itu diantaranya nilai moral, estetika, sosial, dan budaya.

Jika dibuat dalam bentuk pementasan, ada beberapa unsur drama lainnya. Seperti sarana pementasan, yaitu panggung, kostum, pencahayaan, dan tata suara.

(pal/pal)