Kebakaran yang bersumber dari arus listrik termasuk kebakaran yang dapat digolongkan menjadi

Mengenal 6 Klasifikasi Kebakaran dan Pencegahannya

Kebakaran ialah nyala api kecil maupun besar yang terjadi pada tempat, situasi, dan kondisi yang tidak terduga dan diluar kehendak manusia, pada umumnya bersifat merugikan dan sulit untuk dikendalikan.

Peristiwa kebakaran baik itu kebakaran kecil maupun besar terdapat beberapa bahaya di dalamnya yang harus kita ketahui untuk keselamatan diri sendiri maupun orang lain. Ada beberapa kebakaran yang diklasifikasikan berdasarkan jenis bahan penyebab kebakarannya.

Dengan mengetahui jenis-jenis kebakaran tersebut tentunya akan membantu kita mengenali risiko kebakaran yang mungkin terjadi sewaktu-waktu. Penggolongan atau pembagian ini bertujuan menentukan cara dalam proses pemadamannya. Meskipun demikian, masih belum ada kesepakatan universal terhadap klasifikasi kebakaran ini. Setiap asosiasi ahli di masing-masing negara memiliki standar klasifikasinya sendiri-sendiri.

KLASIFIKASI KEBAKARAN

Klasifikasi kebakaran ini sendiiri dibagi menjadi 4 kategori yaitu Kebakaran A, B, C dan D. Hal ini tertuang jelas dalam peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 04/MEN/1980 Bab I Pasal 2 ayat 1.

Sementara itu, Menurut NFPA (National Fire Protection Association) kebakaran sendiri dibagi menjadi 5 kategori yang berbeda. Hampir sama dengan 4 kategori sebelumnya, Namun ditambah satu kategori lain yakni kategori K. Beberapa negara tepatnya yang ada di Eropa dan Amerika bahkan ada yang yang membuat hingga 6 kategori yang berbeda.

Semua klasifikasi tersebut dapat dilihat sebagai berikut :

1.Kebakaran Kelas A

Seperti yang kita tahu, kebakaran biasa terjadi karena terbakarnya sebuah benda padat seperti misalnya kain atau kayu. Semua kebakaran yang disebabkan oleh terbakarnya benda padat non logam ini akan dimasukkan kedalam kelas A.

Untuk penanganan dan pemadaman kebakaran kelas A yang tepat adalah media basah seperti Air, lumpur, foam atau bisa juga menggunakan media kering seperti pasir dan tepung pemadam.

2. Kebakaran Kelas B

Selain benda padat, benda cair atau gas juga sering menjadi penyebab kebakaran. Seperti contoh beberapa jenis bensin yang memang sering digunakan untuk membakar sesuatu. Selain itu bisa juga karena LPG atau gas alam yang meledak.

Untuk mengatasi kebakaran kelas B yang disebabkan oleh hal-hal tersebut beberapa media yang bisa digunakan untuk pemadaman adalah tepung pemadam, busa atau foam pemadam serta air bertekanan yang berbentuk halus seperti spray.

3. Kebakaran Kelas C

Kebakaran kelas C digunakan untuk jenis kebakaran yang terjadi karena adanya titik api yang berasal dari permasalahan arus listrik. Terjadinya kebakaran ini biasa terjadi karena adanya korsleting atau permasalahan lainnya seperti arus pendek.

Jika hal ini terjadi hindari menggunakan media basah seperti air dalam proses pemadaman karena selain tidak efektif, pemadaman menggunakan air bisa menjadi masalah baru karena air bisa menjadi penghantar listrik. Gunakan pemadam yang berbahan dasar kering seperti tepung pemadam atau karbon dioksida (CO2).

4. Kebakaran Kelas D

Berkebalikan dari kebakaran A yang disebabkan oleh benda padat non logam, kebakaran kelas D adalah kebakaran yang justru disebabkan oleh benda-benda logam seperti misalnya potasium, titanium dan lainnya.

Beberapa logam sangat sensitif terhadap udara atau air, oleh karena itu biasanya yang digunakan dalam pemadaman adalahn pasir yang halus dan kering selain itu bisa juga menggunakan powder khusus.

5. Kebakaran Kelas K

Kebakaran yang dimasukkan dalam kelas K sebenarnya termasuk kasus khusus karena penyebabnya adalah konsentrasi lemak yang tinggi. Kebakaran ini juga paling sering terjadi dalam dapur. Proses pemadaman bisa dilakukan sama halnya saat terjadi kebakaran kelas B.

6. Kebakaran Kelas E

Peralatan elektronik memang sering menjadi penyebab kebakaran terutama peralatan yang menggunakan dinamo. Kebakaran yang disebabkan oleh listrik memang butuh penanganan yang berbeda.

Penggunaan dry powder, bisa dibilang salah satu metode yang paling efisien dalam pemadaman. Namun, penggunaan dry powder ini bisa meningkatkan resiko kerusakan pada mesin elektronik karena memiliki sifat yang lengket.

Pada dasarnya kebakaran bisa terjadi kapan saja. Oleh karena itu tak ada salahnya untuk mempersiapkan alat pemadam yang sesuai dengan lingkungan sekitar anda. Jika semisal lingkungan anda memang banyak logam tak ada salahnya memiliki pemadam dry powder begitu juga jika disekitar justru didominasi oleh benda padat non logam bisa menyiapkan bak pasir atau kran air. Agar anda merasa lebih aman lagi, tentu ada baiknya anda melengkapi rumah anda dengan layanan dari Garda Home, Asuransi rumah yang akan melindungi anda dari kerugian akibat kebakaran.  #PeaceofMind

Klasifikasi kebakaran dibuat untuk memudahkan proses penanganannya.

Seperti yang kita tahu, besaran api dapat berpengaruh pada seberapa besar dampak dari kebakaran. Namun, selain faktor api atau sumber panas, ada faktor lain yang harus diperhatikan untuk menangani kebakaran, antara lain benda yang mudah terbakar serta ketersediaan oksigen. Ketiga unsur inilah yang membentuk "segitiga api" sehingga bisa menciptakan kebakaran.

Melalui Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 4/MEN/1980 Bab I Pasal 2, ayat 1 terdapat 4 klasifikasi kebakaran dan juga cara penanagannnya, apa saja?

Klasifikasi Kebakaran Golongan A

Pada klasifikasi kebakaran golongan A merujuk pada benda-benda padat kecuali logam seperti kertas, plastik, karet, kayu, busa, dan lain sebagainya.

Jika terjadi kebakaran akibat material-material tersebut, maka langkah penanggulangannya adalah dengan memadamkan api menggunakan air, pasir, karung goni basah, tanah lumpur, tepung kimia kering, dan Alat Pemadam Api Ringan (APAR).

Klasifikasi Kebakaran Golongan B

Jika Golongan A bersumber dari benda padat non logam, maka pada klasifikasi kebakaran Golongan B, sumbernya ialah benda cair atau gas yang mudah terbakar. Contohnya bensin, solar, minyak, spirtus, dan gas LPG.

Pemadaman api bisa dilakukan dengan menggunakan pasir, tepung pemadam, dan Alat Pemadam Api Ringan (APAR).

Penggunaan air sebagai media pemadaman api dilarang pada klasifikasi golongan B karena massa air lebih berat dibandingkan massa benda cair yang dapat menjadi penyebab kebakaran sehingga dikhawatirkan kebakaran justru akan melebar.

Klasifikasi Kebakaran Golongan C

Klasifikasi kebakaran yang ketiga adalah golongan C atau kebakaran yang bersumber dari instalasi listrik bertegangan, contohnya breaker listrik, sambungan kabel, alat rumah tangga yang menggunakan listrik, mesin-mesin pabrik, dan sebagainya.

Jika terjadi kebakaran yang bersumber pada jenis-jenis di golongan C, maka penanganan yang harus dilakukan adalan dengan memutus sambungan listriknya terlebih dahulu baru pemadaman api bisa dilakukan menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR), karbondioksida (CO2), dan tepung kimia kering (dry chemical). Sama seperti kebakaran golongan B, penggunaan air juga dilarang pada klasifikasi kebakaran golongan  C.

Klasifikasi Kebakaran Golongan D

Klasifikasi kebakaran terakhir berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 04/MEN/1980 ialah kebakaran golongan D.

Kebakaran golongan D berasal dari benda-benda logam padat seperti contohnya alumunium, magnesium, kalium, dan lain-lain. Umumnya industri laboratorium atau manufacture logam menjadi sasaran empuk dari potensi kebakaran golongan D.

Namun seperti klasifikasi kebakaran lainnya, di golongan D ini juga terdapat cara penanganannya yaitu dengan menggunakan pasir halus dan kering atau dry powder.

Itulah 4 klasifikasi kelas kebakaran berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 04/MEN/1980. Tentunya seiring dengan berjalannya waktu, peraturan akan keselamatan dan kesehatan kerja juga terus berkembang, termasuk kebakaran. Memahaminya dan terus up to date dibutuhkan agar Anda tetap nyaman dan aman selama bekerja.

Mau tahu lebih dalam lagi seputar kebakaran, proses penanganan, dan evakuasi yang tepat? Ikuti Training Kebakaran bersama GoSafe Academy yang didukung Kemnaker, BNSP, serta Premysis Consulting. Cari trainignya di sini atau hubungi Service Consultant kami di sini.

Video yang berhubungan

Postingan terbaru

LIHAT SEMUA