Bagaimana cara kita bermohon kepada Allah SWT menurut surat al a raf ayat 180?

Surat Al-A'raf berarti "Tempat Tertinggi". Makna tersebut merujuk pada sebuah tempat yang menjadi perbatasan antara surga dan neraka yang dihuni oleh para Ashab Al-A'raf.

Surat yang terdiri dari 206 ayat ini pun termasuk salah satu dari tujuh surat terpanjang dalam Al-Qur'an atau disebut dengan assab 'uththiwaal. Merupakan golongan surat Makkiyah, berikut bacaan surat Al-A'raf ayat 181-193 lengkap disertai dengan arti, kandungan, dan keutamaannya.

ilustrasi wanita membaca Al-Qur'an (freepik.com/freepik)

Menjadi bagian dari juz 8 dan juz 9 dalam Al-Qur'an, berikut bacaan surat Al-A'raf ayat 181–193 dengan arab, lafaz, dan artinya.

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْ

Bismillahirrahmannirrahiim.

Artinya: Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Ayat 181

وَمِمَّنْ خَلَقْنَآ اُمَّةٌ يَّهْدُوْنَ بِالْحَقِّ وَبِهٖ يَعْدِلُوْنَ

Wa mim man khalaqnā ummatuy yahdụna bil-ḥaqqi wa bihī ya'dilụn.

Artinya: Dan di antara orang-orang yang telah Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan (dasar) kebenaran, dan dengan itu (pula) mereka berlaku adil.

Ayat 182

وَالَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُوْنَ

Wallażīna każżabụ bi`āyātinā sanastadrijuhum min ḥaiṡu lā ya'lamụn.

Artinya: Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.

Ayat 183

وَاُمْلِيْ لَهُمْ ۗاِنَّ كَيْدِيْ مَتِيْنٌ

Wa umlī lahum, inna kaidī matīn.

Artinya: Dan Aku akan memberikan tenggang waktu kepada mereka. Sungguh, rencana-Ku sangat teguh.

Ayat 184

اَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوْا مَا بِصَاحِبِهِمْ مِّنْ جِنَّةٍۗ اِنْ هُوَ اِلَّا نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌ

A wa lam yatafakkarụ mā biṣāḥibihim min jinnah, in huwa illā nażīrum mubīn.

Artinya: Dan apakah mereka tidak merenungkan bahwa teman mereka (Muhammad) tidak gila. Dia (Muhammad) tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang jelas.

Ayat 185

اَوَلَمْ يَنْظُرُوْا فِيْ مَلَكُوْتِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا خَلَقَ اللّٰهُ مِنْ شَيْءٍ وَّاَنْ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنَ قَدِ اقْتَرَبَ اَجَلُهُمْۖ فَبِاَيِّ حَدِيْثٍۢ بَعْدَهٗ يُؤْمِنُوْنَ

A wa lam yanẓurụ fī malakụtis-samāwāti wal-arḍi wa mā khalaqallāhu min syai`iw wa an 'asā ay yakụna qadiqtaraba ajaluhum fa bi`ayyi ḥadīṡim ba'dahụ yu`minụn.

Artinya: Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala apa yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya waktu (kebinasaan) mereka? Lalu berita mana lagi setelah ini yang akan mereka percayai?

Ayat 186

مَنْ يُّضْلِلِ اللّٰهُ فَلَا هَادِيَ لَهٗ ۖوَيَذَرُهُمْ فِيْ طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُوْنَ

May yuḍlilillāhu fa lā hādiya lahụ wa yażaruhum fī ṭugyānihim ya'mahụn.

Artinya: Barang siapa dibiarkan sesat oleh Allah, maka tidak ada yang mampu memberi petunjuk. Allah membiarkannya terombang-ambing dalam kesesatan.

Ayat 187

يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ السَّاعَةِ اَيَّانَ مُرْسٰىهَاۗ قُلْ اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّيْۚ لَا يُجَلِّيْهَا لِوَقْتِهَآ اِلَّا هُوَۘ ثَقُلَتْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ لَا تَأْتِيْكُمْ اِلَّا بَغْتَةً ۗيَسْـَٔلُوْنَكَ كَاَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَاۗ قُلْ اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللّٰهِ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ

Yas`alụnaka 'anis-sā'ati ayyāna mursāhā, qul innamā 'ilmuhā 'inda rabbī, lā yujallīhā liwaqtihā illā huw, ṡaqulat fis-samāwāti wal-arḍ, lā ta`tīkum illā bagtah, yas`alụnaka ka`annaka ḥafiyyun 'an-hā, qul innamā 'ilmuhā 'indallāhi wa lākinna akṡaran-nāsi lā ya'lamụn.

Artinya: Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang Kiamat, “Kapan terjadi?” Katakanlah, “Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu ada pada Tuhanku, tidak ada (seorang pun) yang dapat menjelaskan waktu terjadinya selain Dia. (Kiamat) itu sangat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi, tidak akan datang kepadamu kecuali secara tiba-tiba.” Mereka bertanya kepadamu seakan-akan engkau mengetahuinya. Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya pengetahuan tentang (hari Kiamat) ada pada Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Ayat 188

قُلْ لَّآ اَمْلِكُ لِنَفْسِيْ نَفْعًا وَّلَا ضَرًّا اِلَّا مَا شَاۤءَ اللّٰهُ ۗوَلَوْ كُنْتُ اَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِۛ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوْۤءُ ۛاِنْ اَنَا۠ اِلَّا نَذِيْرٌ وَّبَشِيْرٌ لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ

Qul lā amliku linafsī naf'aw wa lā ḍarran illā mā syā`allāh, walau kuntu a'lamul-gaiba lastakṡartu minal-khaīr, wa mā massaniyas-sū`u in ana illā nażīruw wa basyīrul liqaumiy yu`minụn.

Artinya: Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku kecuali apa yang dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa bahaya. Aku hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.”

Ayat 189

 هُوَ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ اِلَيْهَاۚ فَلَمَّا تَغَشّٰىهَا حَمَلَتْ حَمْلًا خَفِيْفًا فَمَرَّتْ بِهٖ ۚفَلَمَّآ اَثْقَلَتْ دَّعَوَا اللّٰهَ رَبَّهُمَا لَىِٕنْ اٰتَيْتَنَا صَالِحًا لَّنَكُوْنَنَّ مِنَ الشّٰكِرِيْنَ

Huwallażī khalaqakum min nafsiw wāḥidatiw wa ja'ala min-hā zaujahā liyaskuna ilaihā, fa lammā tagasysyāhā ḥamalat ḥamlan khafīfan fa marrat bih, fa lammā aṡqalad da'awallāha rabbahumā la`in ātaitanā ṣāliḥal lanakụnanna minasy-syākirīn.

Artinya: Dialah yang menciptakan kamu dari jiwa yang satu (Adam) dan daripadanya Dia menciptakan pasangannya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, (istrinya) mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian ketika dia merasa berat, keduanya (suami istri) bermohon kepada Allah, Tuhan Mereka (seraya berkata), “Jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami akan selalu bersyukur.”

Ayat 190

فَلَمَّآ اٰتٰىهُمَا صَالِحًا جَعَلَا لَهٗ شُرَكَاۤءَ فِيْمَآ اٰتٰىهُمَا ۚفَتَعٰلَى اللّٰهُ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ

Fa lammā ātāhumā ṣāliḥan ja'alā lahụ syurakā`a fīmā ātāhumā, fa ta'ālallāhu 'ammā yusyrikụn.

Artinya: Maka setelah Dia memberi keduanya seorang anak yang saleh, mereka menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya itu. Maka Mahatinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Ayat 191

اَيُشْرِكُوْنَ مَا لَا يَخْلُقُ شَيْـًٔا وَّهُمْ يُخْلَقُوْنَۖ

A yusyrikụna mā lā yakhluqu syai`aw wa hum yukhlaqụn.

Artinya: Mengapa mereka mempersekutukan (Allah dengan) sesuatu (berhala) yang tidak dapat menciptakan sesuatu apa pun? Padahal (berhala) itu sendiri diciptakan.

Ayat 192

وَلَا يَسْتَطِيْعُوْنَ لَهُمْ نَصْرًا وَّلَآ اَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُوْنَ

Wa lā yastaṭī'ụna lahum naṣraw wa lā anfusahum yanṣurụn.

Artinya: Dan (berhala) itu tidak dapat memberikan pertolongan kepada penyembahnya, dan kepada dirinya sendiri pun mereka tidak dapat memberi pertolongan.

Ayat 193

وَاِنْ تَدْعُوْهُمْ اِلَى الْهُدٰى لَا يَتَّبِعُوْكُمْۗ سَوَۤاءٌ عَلَيْكُمْ اَدَعَوْتُمُوْهُمْ اَمْ اَنْتُمْ صَامِتُوْنَ

Wa in tad'ụhum ilal-hudā lā yattabi'ụkum, sawā`un 'alaikum a da'autumụhum am antum ṣāmitụn.

Artinya: Dan jika kamu (wahai orang-orang musyrik) menyerunya (berhala-berhala) untuk memberi petunjuk kepadamu, tidaklah berhala-berhala itu dapat memperkenankan seruanmu, sama saja (hasilnya) buat kamu menyeru mereka atau berdiam diri.

Anjuran doa dan dzikir dengan asmaul husna

Asmaul husna adalah nama-nama indah yang dimiliki Allah. Secara etimologis, asmaul husna berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata, yaitu al-asma’ dan al-husna. Kata al-asma’ adalah jamak dari lafadz ismun, yang berarti nama. Sedangkan al-husna merupakan mashdar dari lafadz al-ahsan yang berarti baik, bagus, atau indah. Allah pun mengancurkan untuk berdoa dan berdzikir dengan asmaul husna.

Dalam Al-Quran Surat Al-A’raf ayat 180, Allah telah menjelaskan nama-nama lain dari-Nya yang disebut asmaul husna. Di dalam asmaul husna pula terkandung sifat-sifat Allah yang sangat mulia nan agung. Pengenalan Allah mengenai nama-nama indah-Nya kepada manusia dimaksudkan agar manusia senantiasa mengingat-Nya dalam kondisi dan situasi apapun. Bentuk dari ingat Allah bisa diekspresikan dengan penggunaan dzikir asmaul husna ini, baik bil qolbi maupun bil lisan.

Baca juga: Baca Ayat Ini Sebagai Doa Agar Orang Mendapatkan Hidayah Islam

Tafsir Surat Al-A’raf ayat 180, anjuran berdoa dengan asmaul husna

Surat Al-A’raf ayat 180 mengandung penjelasan mengenai asmaul husna. Adapun ayatnya berbunyi sebagaimana berikut:

وَلِلَّهِ ٱلْأَسْمَاءُ ٱلْحُسْنَىٰ فَٱدْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا ٱلَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِى أَسْمَٰئِهِۦ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Hanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”

Ayat di atas dalam Tafsir Al-Wajiz karangan Wahbah Zuhayli adalah penjelasan mengenai agungnya kemuliaan Allah dan luasnya sifat-sifat-Nya bahwa Ia memiliki asmaul husna, semua nama yang baik. Menurut Wahbah Zuhayli, semua nama-Nya tersebut menunjukkan sifat kesempurnaan yang dengan itu Ia menjadi husna (bagus). Dan apabila nama tersebut tidak menunjukkan sifat, namun hanya sekedar nama, maka bukanlah disebut husna.

Baca juga: Doa Al-Quran: Surat Ali Imran Ayat 8 untuk Ketetapan Hati dalam Iman

Dalam Tafsir al-Mizan fi tafsir Al-Qur’an, Husain Thabathaba’i membahas khusus tentang asmaul husna dalam satu bab yang diberi judul Kalam fi al-Asma al-Husna fi Fushul. Thabathaba’i menerangkan bahwa asmaul husna terlepas dari semua sifat kekurangan atau sifat-sifat negatif.

Thabathaba’i sedikit berbeda dengan Zuhayli perihal penyandaran asma wa sifat. Thabathaba’i tidak membedakan antara keduanya kecuali perihal sifat. Sifat menurutnya menunjukkan makna yang melekat pada dzat secara umum baik itu ‘ainiyyah atau gairiyyah. Sedangka asma’ menunjukkkan dzat yang telah disifati. Dalam penafsiran Thabathaba’i, nama Allah ditilik dari ranah tafsir itu tidak tauqifiyyah dikarenakan ketiadaan dalil yang menunjukkan ketauqifiyyah-an itu. Sedangkan dalam ranah fiqih nama-nama Allah itu tauqifiyah.

Terlepas mengenai penjelasan asma wa sifat Allah, asmaul husna adalah nama Allah yang menunjukkan kesempurnaan-Nya. Ia tidak memiliki kekurangan sama sekali. Asmaul husna juga menunjukkan keesaan Allah seperti yang diungkapkan Zuhayli dan Thabathaba’i, karena hanya Dia-lah satu-satunya Dzat yang memiliki sifat-sifat mulia tersebut. Dan ketika nama tersebut disandarkan kepada selain-Nya dengan maksud menyekutukan-Nya, maka sifat-sifat mulia yang terkandung di dalamnya otomatis akan hilang. Hal itu karena yang pantas menyandang asmaul husna adalah Allah, Tuhan Yang Maha Esa.

Anjuran berdoa dan berdzikir dengan asmaul husna

Asmaul husna ini bisa dijadikan amalan berdoa dan berdzikir sehari-hari bagi umat Islam. Wahbah Zuhayli dalam Tafsir Al-Wajiz juga memberikan keterangan bahwa hakikatnya manusia akan selalu menyebut-Nya dalam siatuasi apapun. Misal ketika manusia dalam keadaan sulit rezeki, maka ia akan cenderung membutuhkan satu Dzat penolong yang Maha memberi rezeki. Atau ketika mausia dalam keadaan terpepet banyak masalah, maka ia membutuhkan suatu Dzat penolong Yang Maha meluaskan keadaan hati.

Begitupun seterusnya. Manusia pasti, dan akan selalu membutuhkan Dzat Yang Maha agung di setiap kondisi yang dihadapinya. Karena sifat-sifat Allah yang agung tersebut termanifestasikan ke dalam sifat makhluk-Nya. Hanya saja sifat ilahiyah yang terdapat dalam diri sang makhluk sangatlah terbatas, dan hanya Allah lah yang memiliki sifat sempurna yang tak terbatas. Ini menunjukkan betapa lemahnya manusia di hadapan Rabb-Nya.

Baca juga: Kisah 70 Sahabat Nabi dan Dzikir Hasbunallah Wa Ni’mal Wakil

Maka dari itu, dalam Surat Al-A’raf ayat 180 Allah berfirman “maka mohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma al husna itu”. Menurut penuturan Wahbah Zuhayli, anjuran Allah ini mencakup doa ibadah dan doa meminta. Dia dipanggil dalam setiap keinginan yang sesuai dengan keinginan tersebut permohonan misalnya mengucapkan “ya Allah ampunilah aku, sayangilah aku”.

Selain berdoa, berdzikir dengan asmaul husna juga dianjurkan karena Rasulullah pernah bersabda “Hari Kiamat tidak akan datang sampai lafal “Allah…Allah…” tidak disebutkan di bumi (HR Muslim). Dalam hadis yang dikeluarkan oleh Abu Daud dan Ibnu Majah, Rasulullah juga menganjurkan untuk membaca lafadz-lafadz asmaul husna ketika dalam kondisi gundah, “Allahu Allahu rabbii, laa usyriku bihi syaian (Allah... Allah adalah tuhanku, aku tidak akan menyekutukanNya dengan sesuatu apapun)” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah). Wallahu a’lam[]